Ketersinggungan Orang-Orang di Jalanan

Saturday, July 04, 2009

oleh Sudirman HN








Lamunan saya tiba-tiba terlontar ke timbunan sejarah saat membaca dan mendengar dari jauh kemarahan banyak orang yang melekatkan 'identitas Sulawesi Selatan' (identitas Bugis, identitas Makassar, atau gabungan semuanya itu), khususnya kemarahan orang-orang biasa di jalanan yang merasa identitas Bugis, identitas Makasar atau identitas Sulselnya cedera. Ya, tentu setelah Alifian Mallarangeng melontarkan pernyataan tak hati-hati itu.

Saya tiba-tiba teringat pada cerita-cerita orang-orang tua biasa di banyak pelosok Sulawesi Selatan mengapa mereka yang jauh dari hiruk-pikuk intrik politik di Jakarta dan Makassar di awal tahun 50-an itu kemudian berbondong-bondong masuk ke hutan-hutan memanggul senjata mengikuti Kahar Muzakkar (KM). Orang-orang tua itu menyebut ketersinggungan dan kemudian merambat jauh pada identitas daerah, kesukuan (juga kemudian agama) yang cedera yang membuat mereka masuk hutan dan ikut berdarah-darah dalam permberontakan bersenjata paling lama dalam sejarah Indonesia itu.

Pada awalnya adalah ketersinggungan. KM, orang Sulawesi Selatan pertama yang menjadi letnan kolonel (overste) dalam revolusi dan dalam ketentaraan negara Indonesia yang masih muda itu, batal diangkat menjadi orang pertama dalam dinas ketentaraan Indonesia di Makassar. Alih-alih, orang-orang dari Sulawesi Utara mendominasi posisi-posisi elit ketentaraan di Makassar. Mereka-mereka yang dari utara itu memang jauh lebih terdidik, termasuk dalam kemiliteran, beberapa di antaranya seperti Alex Kawilarang bahkan konon alumnus sekolah militer di Breda Eropa sana dan sempat menjadi perwira KNIL. Latar belakang pendidikan kemiliteran membuat elit-elit ketentaraan di Jawa yang sedang melakukan rasionalisasi tentara setelah Belanda hengkang menganggap perwira-perwira asal Sulawesi Utara itu lebih berdisiplin ketimbang orang-orang Sulawesi Selatan yang banyak kurang terdidik dan berasal dari layskar-lasykar rakyat. Lasykar-lasykar yang masih segar mengingat bagaimana mereka berdarah-darah bergerilya di Jawa maupun di Sulawesi Selatan menghadapi keganasan NICA dengan persenjataan seadanya. Barbara Harvey Sillars dengan rinci membahas ketersinggungan, identitas dan harga diri yang cedera itu dalam buku monumentalnya 'Pemberontakan Kahar Muzakkar : dari tradisi ke DI/TII' (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti,1989).

Saya membayangkan banyak anak-anak muda di pelosok-pelosok Sulawesi Selatan dan Tenggara, bahkan mereka yang sebelumnya tidak sempat menjadi lasykar-lasykar melawan Belanda, sulit menahan gejolak darah mudanya ketika mendengar KM putra Sulawesi Selatan legendaris dicederai harga dirinya. Mereka-mereka ini jelas akan sangat sulit memahami kebijakan rasionalisasi tentara yang dilakukan Jakarta, sebuah tempat yang secara geografis dan sosial-politik jauh dari tempat mereka berdiri. Ketersinggungan, romantisme, pesona KM yang konon orator ulung dengan segenap mitos yang melekat pada dirinya menyeret anak-anak muda kampung itu ke dalam gelora gerakan bersenjata. KM beberapa tahun kemudian menambahkan identitas Islam dalam orasi-orasinya dan pemberontakan bersenjata itu semakin menjalar ke mana-mana dan merepotkan Jakarta, sekaligus menorekhkan luka yang dalam dan menelan korban jiwa dan harta benda yang teramat banyak.

Skala kemarahan terkait pernyataan Mallarengeng dan kemudian dampaknya memang mungkin tak seeksplosif kemarahan di jalan-jalan awal tahun 50-an itu, namun tetap saja kita harus waspada. Dalam hal pernyataraan Mallarangeng, kemarahan orang-orang di jalanan (saya tak terlalu tertarik pada kemarahan para elit Sulawesi Selatan yang tentu tak bisa dilepaskan dalam konteks pertarungan pilpres saat ini) mengenai identitas Bugis, Makassar dan Sulawesi Selatan yang cedera tampaknya lebih 'murni' ketimbang kemarahan elit-elit Sulsel. Tapi harus diingat pula kemarahan di jalan-jalan juga kerap mudah digiring dan dimanipulasi. Meskipun mungkin banyak dari mereka-mereka yang melontarkan kemarahan di jalan-jalan itu juga sedikit banyak tahu mereka tak akan banyak mendapatkan keuntungan material secara personal bahkan bila seorang Bugis Sulsel menjadi presiden di Indonesia sekalipun. Sejarah menunjukkan pola politik dan kepemimpinan transaksional yang sudah terlalu lama berakar dalam elit-elit mapan perpolitikan di Indonesia sangat sering 'melupakan' kepentingan 'nation' ketika masa pemilu berlalu. Tapi masalah 'identitas' meskipun cair senantiasa peka dan berpotensi membakar.

Makanya untuk segenap elit-elit politik (khususnya elit-elit Sulsel) yang saling berhadap-hadapan dalam konteks kepentingan menjelang pilpres saat ini, hati-hatilah melontarkan pernyataan terutama bila pernyataan itu menyerempet masalah 'identitas' yang sangat gampang membakar itu. Masalah 'identitas' ini perlu dibicarakan dengan dingin dan cerdas, namun itu tampaknya sulit dilakukan hari-hari ini terutama bila dipicu oleh orang-orang yang kepentingannya sedang saling bertabrakan menjelang pilpres beberapa hari mendatang. Para elit yang hanya berbicara mengenai 'identitas' dalam bingkai perebutan kekuasaan dan kepentingan. Orang-orang yang kepentingannya setelah pilpres usai bisa jadi tak banyak kaitannya dengan kepentingan orang-orang biasa di jalanan yang sedang marah karena identitas kedaerahannya dicederai.

sumber [http://www.facebook.com/profile.php?id=1061896897&v=info&viewas=711606326#/note.php?note_id=98559709521&ref=nf]

Pengen Dapat Duit Dengan NgeBlog? Daftar di Sini




0 komentar:

Post a Comment