Search This Blog

Posted on | Saturday, February 06, 2016 | No Comments


Matahari sudah beranjak meninggalkan singgasananya dan jinggapun sudah berubah warna setelah saya dan saudara yang lain tiba di tempat tujuan. Keramba Pesona Alam, adalah tempat tujuan kami untuk makan malam pada hari itu. Makan malam di keramba merupakan suatu hal yang baru bagi saya, mungkin juga bagi saudara saya. Besar di kota Makasar yang tidak memiliki keramba di sudut kota, membuat kami sangat antusias berada di sini. Memancing ikan, dan hasil pancingan kami langsung dibakar di tempat dan diolesi minyak kelapa yang sudah dicampur dengan bawah putih yang sudah ditumbuk dan dicampur dengan kecap, membuat aromanya semakin nikmat, dan berhasil membuat perut kami ingin segera diisi.

Saya dan pemilik keramba masih mencoba peruntungan melalui kail demi kail yang kami lempar ke bawah dari atas keramba apung. Istri dari pemilik keramba yang masih mengenakan pakaian pesta bewarna merah dengan penuh manik-manik di bagian dada dan pergelangan tangan serta mengenakan pakaian pesta bewarna merah dengan penuh manik-manik dibagian dada dan pergelangan tangan serta [L1] mengenakan jilbab yang senada dengan warna pakaiannya berlari-lari kecil menghampiri kami, membuat papan di keramba sedikit bergoyang.

“ayo pergi lulo nak.” ajakan ibu tersebut kepada saya

Tanpa sempat membalas ajakannya, ibu separuh baya sudah berlalu meninggalkan kami.

Lulo? Apa itu lulo, kenapa ibu tadi mengajak. Melihat muka kebingungan saya, om Igo, suami dari tante saya, yang saat itu berada dekat dengan saya hampir tertawa melihat saya kebingungan sendiri.

“lulo itu tarian tradisi disini saat ada acara-acara penting seperti pesta pernikahan, pesta panen raya, atau penyambutan tamu.” jelas om Igo yang masih sibuk dengan memperbaiki posisi umpannya di kail.

Ya saya ingat, setibanya disini ada pesta pernikahan di samping rumah pemilik keramba, dan saudara saya yang pernah menetap lama di Pomala dan Kota Kendari sempat mengajak saya untuk ikut Molulo, tetapi ajakannya tidak saya perhatikan karna saking antusiasnya ingin segera memancing.
Tidak berselang lama saat istri pemilik keramba telah selesai menyiapkan makanan di atas meja kayu panjang di atas keramba, ibu datang kembali menghampiri kami tetapi dengan kostum yang sudah berbeda. Ibu itu mengenakan celana panjang jeans dan kaos abu-abu ketat lengan pendek. Sekali lagi, ibu itu mengajak dengan sedikit memaksa. Katanya jarang-jarang saya dapat momen seperti ini, apalagi saya baru pertama kali ke Kendari dan belum pernah ikut atau menyaksikan molulo. Di kota Kendari tarian ini sudah tidak terlalu banyak ditampilkan, hanya pada saat penyambutan tamu-tamu penting atau acara ulang tahun kota, jadi sangat beruntung jika saya dapat memanfaatkan kesempatan ini.

“kalau ada acara orang kawin di sini, yang ditunggu-tunggu itu lulonya, mau ibu-ibu, bapak-bapak, apalagi anak mudanya senang sekali kalau ada acara lulo”. Om Igo menambahkan dengan suara serak dan dialek khas orang k[L2] endari

s[L3] aya itu sampai sekarang suka ka pergi lulo, hitung-hitung olahraga”. Timpal temannya om Igo.

a[L4] yo mi pergi lulo, kita coba-coba mi dulu, simpanmi pancing mu, nanti bisa ji lagi kita pergi mancing”. Ajak om Igo, sambil berdiri dan menyimpan alat pancing yang sedari tadi dipegangnya.

Tepat pukul 9 malam, kursi-kursi plastik disusun ke atas dan dipindahkan  di pinggir tenda, seketika tempat untuk menjamu tamu di bawah tenda menjadi lapang. Saya  pikirnya pesta pernikahannya telah usai, karena tidak ada lagi tempat untuk menjamu tamu. Tapi ternyata dugaan saya salah.
Molulo dulunya dilakukan di tempat yang luas atau lapangan, tapi karena mengikuti zaman dan sudah kurangnya lahan kosong yang datar, maka tempat untuk menjamu tamu disulap menjadi tempat lulo untuk para keluarga, tamu dan penduduk sekitar.

Musik pun dimainkan, ada dangdut koplo ataupun lagu yang sudah diremix, orang-orang mulai membentuk lingkaran. Saling bergandeng tangan. Telapak tangan laki-laki berada di atas telapak tangan perempuan. Setelah membentuk lingkaran dan bergandeng tangan, mulailah semuanya bergoyang mengikuti irama. Goyangannyapun hanya maju mundur dan ke kiri - ke kanan. Terlihata dari wajah mereka sangat bahagia, riuh tawa dan suara musik dari elekton menjadi satu. Benar-benar tercipta keakraban di antara mereka, tidak memandang usia ataupun kasta[L5] , semuanya berbaur menjadi satu dan bersuka cita.

...
Menurut Wikipedia tarian Molulo  atau  Lulo berasal dari bahasa Tolaki yaitu Molulo, merupakan salah satu jenis  kesenian  tari tradisional dari daerah Sulawesi Tenggara, Indonesia. Suku Tolaki  sebagai salah satu suku yang berada di daerah ini memiliki beberapa tarian tradisional, salah satu tarian tradisional yang masih sering dilaksanakan hingga saat ini adalah tarian persahabatan yang disebut tarian Lulo.

Pada zaman dulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat seperti;[L6]  pernikahan, pesta panen raya dan upacara pelantikan raja, yang diiringi oleh alat musik pukul yaitu  gong. Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran. Gong yang digunakan biasanya terdiri dari 2 macam yang berbeda ukuran dan jenis suara. Saat sekarang utamanaya di daerah perkotaan, gong sebagai alat musik pengiring tarian lulo telah digantikan dengan alat musik modern yaitu “Electone”.

“dulu itu, lulo pakai gong, tapi karena susahmi didapat gong, makanya sekarang pake electon saja. Dulu juga kalau lulo, tidak bisa campur-campur orangnya. Kalau laki-laki ya laki-laki semua, begitupun sebaliknya, tapi sekarang bisa mi campur-campur orangnya”. Om Igo menjelaskan kembali.

Pada awalnya, tari lulo merupakan ritual untuk memuja Dewi Padi terutama pada seusai panen. Kata lulo sendiri berarti menginjak-injak onggokan padi untuk melepaskan bulir dari tangkainya.


Ada beberapa versi memang, asal usul tari lulo ini, tapi inti dari semuanya adalah persahabatan dan tarian rasa syukur kepada sang pencipta.
...
Melakukan tari lulo adalah pengalaman pertama bagi saya, sempat kikuk awalnya, karena saya tidak terbiasa menari ataupun bergoyang bersama-sama, apalagi sambil bergandeng tangan. Hanya memerhatikan yang lain dan akhirnya saya sudah mulai bisa menyesuaikan gerakan mereka. Ada hal yang membuat saya senang ditengah-tengah mereka, yaitu keakraban yang terjalin, dan hal serupa pun dirasakan oleh sepupu dan orang-orang yang sempat saya tanya-tanya tentang kesan pertama saat melakukan lulo. Ada yang dapat jodoh dari seringnya mereka ikut lulo, [L8] atau hanya sekedar berkumpul bersama para kerabat atau tetangga sekitar.

Walaupun banyak hal yang berubah dari tarian ini, mulai dari pakaian yang dikenakan yang seharusnya mengenakan pakaian adat, musik dan variasi gerakan juga banyak berubah tetapi makna dari lulo ini tetap abadi[L9] , yaitu suka cita dan menciptakan keakraban.

Tari l[L10] ulo sendiri telah membuktikan diri sebagai tarian tradisional yang mampu hidup dengan berbagai derasnya arus modernitas. Dalam banyak kasus, tradisi kesenian lokal biasanya akan punah jika berhadap-hadapan dengan seni kontemporer. Namun tari lulo merupakan tarian yang memiliki daya resistensi yang cukup kuat terhadap pengaruh modernitas. Salah satu faktor yang menyebabkan tari lulo tetap dikenal sepanjang sejarah masyarakat Kendari adalah kemampuannya untuk menerima perubahan dengan tanpa kehilangan cirinya.

Perhatikan pemakaian ‘di’, jika menunjukkan tempat ‘di’ harus ditulis terpisah. ‘di’ ditulis bersambung jika diikuti kata kerja.

Nama tempat, tarian, wilayah, kota dll harus diawali dengan huruf besar


 [L1]dobel
 [L2]nama tempat, kota harus diawali huruf besar
 [L3]kata pembuka kalimat juga harus diawali huruf besar
 [L4]sda
 [L5]masih ada kasta di antara mereka? jelaskan kalau ada
 [L6]pakai tanda ; (titik koma) kalau diikuti dengan beberapa hal yang di antarai dengan koma
 [L7]ini versi siapa? Lebih bagus kalau ada kutipan pernyataan seseorang.
 [L8]Masukkan kutipan yang mendukung pernyataan ini
 [L9]Perubahan variasinya bagaimana? Ini kata siapa?
 [L10]Nama tarian, selalu awali dengan huruf besar.

Artikel Terkait:

Comments

Leave a Reply

This Blog is DoFollow Blog

All Comments on this blog are DoFollow. All Comments are Moderated. Spamming won’t be Tolerated.
There was an error in this gadget

GeoVisite


Followers

Follow by Email